Berebut Kupat Jembut, Tradisi Unik Syawalan di Semarang

Berebut Kupat Jembut di Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcomSemarang – Matahari belum terbit, suara teriakan anak-anak di Kampung Jaten Cilik, Pedurungan Tengah, Kota Semarang sudah riuh terdengar. Mereka berlari berebut Kupat Jembut sebagai bentuk syukur bulan Syawal.

Diawali kembang api dan petasan di depan Masjid Rudhotul Muttaqiin usai Salat Subuh, para tokoh masyarakat dan agama membawa baki berisi ketupat. Anak-anak yang sudah menanti langsung datang berebut berusaha mendapatkan ketupat yang juga disisipi uang itu.

Habis ketupat di baki, suara tiang listrik diketuk terdengar dari kejauhan dan menarik perhatian. Anak-anak berlarian menghampirinya dan kembali berebut ketupat yang dibagikan warga.

Pola itu berulang sehingga anak-anak berlarian ke sana kemari. Dalam tradisi Syawalan ini memang warga-warga di Jateng Cilik menyiapkan Kupat Jembut alias ketupat berisi tauge sambal kelapa beserta uang untuk dibagikan kepada anak-anak.

Uniknya ada juga warga yang mengisi ketupat dengan uang receh. Anak-anak yang berebut pun gembira dan saling bersaing mendapatkan ketupat serta uang terbanyak.

Kupat Jembut sebenarnya hanya salah satu sebutan untuk kuliner khas Syawalan di Semarang itu. Nama lain yang lebih nyaman didengar yaitu Kupat Tauge.

Salah satu tokoh masyarakat di sana, Munawir (45) mengatakan tradisi bagi bagi ketupat itu sudah ada sejak tahu 1950-an setelah warga asli Jaten Cilik kembali ke kampungnya pasca mengungsi akibat perang dunia kedua.

“Sudah ada sejak tahun 1950-an, pulang ngungsi perang dunia,” kata Munawir di Kampung Jaten Cilik, Rabu (12/6/2019).

Munawir menceritakan, kala itu warga hidup dalam kesederhanaan. Namun karena tetap ingin mengungkapkan rasa syukur setelah melewati bulan Ramadhan, maka digelar syukuran sepekan setelah Idul Fitri atau Syawalan dengan membagikan Kupat Tauge tanpa opor.

“Itu simbol kesederhanaan. Jadi adanya cuma tauge, kelapa, dan lombok, jadi isinya ya tauge sama sambal kelapa. Jadi menyampaikan Lebaran Cilik (Syawalan) ini tidak harus dengan opor,” jelasnya.

Tradisi tersebut memang dilakukan orang dewasa dan diperuntukkan untuk anak-anak. Sehingga para dewasa menyiapkan ketupat untuk dibagikan kepada generasi yang lebih muda.

“Bada Syawal ini memang diwujudkan oleh orang dewasa untuk anak-anak,” pungkasnya.

“Sempat berhenti dua tahun karena ramai-ramai PKI waktu itu,” imbuh Munawir.

Terkait penamaan, Munawir mengakui memang banyak versi penyebutan, namun karena kampung Jaten Cilik lebih lebih relijius maka lebih nyaman menyebut ketupat khas itu dengan sebutan Kupat Tauge daripada Kupat Jembut.

“Karena kampung ini relijius, namanya nyebutnya Kupat Tauge. Tapi sebutannya macam-macam,” tandasnya.

Ternyata tradisi itu tidak hanya di Kampung Jaten Cilik. Di sejumlah titik di Kelurahan Pedurungan Tengah juga menggelar hal serupa termasuk di daerah Sendangguwo atau daerah yang berada di sisi Timur Kota Semarang.

“Sudah lama sekali tradisi Kupat Jembut ini. Warga asli sini tahu semua,” ujar Titik, salah satu warga Pedurungan Tengah.
(alg/sip)

sumber

Angkringan samba mulai buka, Kamis, 13 Juni 2019. Selamat Idul Fitri 1440 H. Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Buka setiap Hari Sabtu-Kamis jam 13.00 wib – 23.00 wib

Hari Sabtu (malam minggu) buka sampai jam 24.00 wib

Libur setiap Hari Jumat.

Tema Novel, Penokohan, Latar, Sudut Pandang Dalam Novel

Novel adalah karya sastra yang dibangun dari dua unsur, yaitu segi intrinsik dan segi ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang turut membangun cerita. Kepaduan antarunsur intrinsik inilah yang membuat sebuah novel terwujud. Unsur-unsur intrinsik sebuah novel di antaranya adalah tema, penokohan, latar, alur, dan sudut pandang.

Tema Novel
      Tema adalah gagasan yang mendasari sebuah karya sastra. Dalam novel, tema didukung oleh pelukisan latar atau tingkah laku dan sifat tokoh. Untuk menentukan tema novel, pembaca atau pendengar haruslah menyimpulkan keseluruhan isi cerita. Tidak hanya berdasarkan bagian-bagian tertentu cerita saja. Ada berbagai tema yang terkandung dalam novel Indonesia yang pada umumnya berhubungan dengan masalah kehidupan manusia. Misalnya, masalah percintaan menjadi tema dalam novel Azab dan Sengsara, Sitti Nurbaya, dan Pada Sebuah Kapal. Masalah religius diangkat menjadi tema novel Robohnya Surau Kami dan Kemarau.

 Penokohan Novel
       Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Tokoh dalam suatu novel berperan sebagai pribadi yang utuh, lengkap dengan keadaan lahiriah dan batiniah. Oleh karena itu, tokoh dalam karya sastra novel mempunyai sifat tertentu.
Ada tokoh yang mempunyai sifat pemarah, pemalu, penyabar, rajin, dan sebagainya. Dalam karyanya, pengarang dapat menampilkan sifat atau karakter tokoh melalui berbagai cara seperti berikut.
1. Penggambaran bentuk lahir tokoh
       Pengarang menggambarkan karakter tokoh dari segi lahiriah yang meliputi bentuk tubuh, tingkah laku, cara berpakaian, serta apa yang dikenakan atau apa yang dibawa.
2. Penggambaran jalan pikiran tokoh atau yang terlintas dalam pikirannya
       Pengarang menggambarkan karakter tokoh melalui jalan pikiran atau perasaan tokoh tersebut.
3. Penggambaran reaksi tokoh terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi
       Penggambaran ini merupakan paparan tentang cara tokoh menanggapi suatu masalah atau peristiwa yang terjadi.
4. Penggambaran keadaan sekitar tokoh
      Penggambaran ini merupakan paparan tentang lingkungan atau tokoh lain yang sangat berhubungan erat dengan tokoh.
Dilihat dari watak dan karakternya, tokoh dapat dibedakan seperti berikut ini.
1. Tokoh antagonis
    Tokoh antagonis yaitu tokoh yang menimbulkan konflik atau masalah dalam cerita. Biasanya tokoh antagonis mempunyai watak dan perilaku yang jahat.
2. Tokoh protagonis
    Tokoh protagonis adalah tokoh yang mempunyai watak baik, benar, dan tidak jahat.
Dilihat dari kepentingan pengarang dalam menampilkan tokoh dalam karya sastra, tokoh dibedakan sebagai berikut.
1. Tokoh utama adalah tokoh yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam sebuah cerita.
     Tokoh ini selalu hadir dalam setiap peristiwa.
2. Tokoh pembantu adalah tokoh yang membantu tokoh utama dalam sebuah karya sastra.

Latar Novel
       Latar atau setting adalah keterangan, petunjuk, dan pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, suasana terjadinya peristiwa dalam sebuah karya sastra. Ada tiga jenis latar dalam karya sastra novel, yaitu latar tempat, waktu, dan suasana.
Selain tema, penokohan, latar, alur juga merupakan salah satu pembangun karya sastra novel. Alur adalah keseluruhan salinan peristiwa yang membentuk satu kesatuan yang disebut cerita. Ada tiga jenis alur dalam karya sastra novel.
1. Alur maju
    Bagian alur yang disajikan secara berurutan dari tahap perkenalan atau pengantar, dilanjutkan tahap penampilan masalah, dan diakhiri dengan tahap penyelesaian.
2. Alur mundur
    Alur disusun dengan mendahulukan tahap penyelesaian dan disusul tahap-tahap yang lain.
3. Alur gabungan
    Alur ini merupakan perpaduan antara alur maju dan mundur. Susunan penyajian urutan peristiwa diawali dengan puncak ketegangan, lalu dilanjutkan dengan perkenalan, dan diakhiri dengan penyelesaian

Sudut Pandang Novel
       Sudut pandang adalah cara pengarang mengungkapkan cerita. Sudut pandang pengarang terbagi atas  berikut ini.
1. Sudut pandang orang pertama pelaku utama.
    Pengarang menggunakan pelaku utama sebagai orang pertama. Dalam sudut pandang tersebut, pengarang menggunakan kata ganti orang pertama, misalnya aku, saya.
2. Sudut pandang orang ketiga
    Pengarang menggunakan pelaku utama sebagai orang ketiga. Dalam sudut pandang tersebut, pengarang menggunakan kata ganti orang ketiga, misalnya dia, ia, nama orang.
3. Sudut pandang serbatahu
    Dalam hal ini pengarang seolah-oleh tahu banyak hal. Pengarang dapat mengemukakan segala tingkah laku atau tindak-tanduk tokoh utamanya. 

sumber : http://walpaperhd99.blogspot.com/2016/04/tema-novel-penokohan-latar-sudut.html

Angkringan Samba libur lebaran mulai Tanggal 1-10 Juni 2019

Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. selamat Idul Fitri 1 Syawal 1440H/2019M.

Nuzulul Qur’an menjadi waktu istimewa di bulan suci Ramadhan.

Nuzulul Quran jatuh pada tanggal 17 Ramadhan.

Untuk pertama kalinya, Allah SWT menurunkan Al Quran kepada Rasulullah SAW berabad-abad silam.

Bulan suci ramadhan menjadi bulan yang paling mulia dibandingkan dengan bulan yang lain.

Selain malam nuzulul Quran, di bulan ramadhan juga terdapat lalilatul qadar atau malam seribu bulan.

Al Quran menjadi mukjizat terbesar yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Mengutip dari penjelasan Ustaz Tsalis Muttaqin, Lc., M.S.I, Ketua Prodi Ilmu Al Quran dan Tafsir IAIAN Surakarta, dalam program Tanya Ustaz, Al Quran turun tidak dalam satu kali waktu.

Kitab suci Al Quran diturunkan dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia.

Setelah itu, Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW.

Mengutip dari laman resmi darunnajah.com, Al Quran pertama kali diturunkan Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahum.

sumber : http://www.tribunnews.com/ramadan

Rabu, 22 Mei 2019. Angkringan Samba di”gruduk” konco-konco arkeo ugm 2004. terima kasih banyak sudah berkunjung….

Sejarah Angkringan

Sejarah Angkringan dan Pengertian Angkringan

Pengertian Angkringan dan Sejarahnya.  
Sejarah angkringan memang bermula dari upaya menaklukkan kemiskinan usaha ini konon dimulai pada tahun 1950-an oleh mbah pairo karena tidak ada lahan yang subur di desanya di kecamatan Cawas, Klaten (jateng). Awalnya para pedagang minuman dan makanan kecil ini tidak menggunakan gerobak melainkan pikulan mereka dulu disebut pedagang hik (dibaca Hek). Nama hik bermula pada tradisi malam selikuran (malam ke21) di Keraton Surakarta, pada malam tersebut  kota berhiaskan lentera (ting-ting) yang antara lain dibawa para pedagang makanan para pedagang itu biasa berteriak Hiik……iyeeekk…. sampai sekarang istilah hik masih dipakai di Solo. Namun di Yogya mereka populer dengan nama angkringan atau warung kucing (Kompas, 20-06-2004).

Nama angkringan itu sendiri diambil dari bahasa jawa yaitu ngankring yang artinya duduk dengan posisi salah satu kaki lebih tinggi dari kaki yang lainnya. Di dalam budaya jawa itu sendiri, cara duduk seperti ini biasanya tidak diperbolehkan karena dianggap tidak etis apalagi bila dilakukan pada saat makan selain nama angkringan, ada juga beberapa orang yang menyebut angkringan dengan nama warung kucing atau kucingan. Kata kucingan konon muncul dikarenakan nasi yang dijual sebagai bagian dari salah satu produk yang dijual di sana mirip dengan cara kebanyakan orang memberikan makan kepada kucing. Porsi nasinya kira-kira hanya 3 kali suapan dengan pasangan lauk berupa sambel dan ikan teri seperti makanan untuk kucing.
Adapun produk-produk yang dijual di angkringan ini kalau dilihat sebenarnya bukanlah makanan yang cepat saji karena meskipun konsumen dapat langsung mengkonsumsi makanan atau minuman yang telah tersaji di sana semenjak warung ini dibuka, akan tetapi makanan atau minuman tersebut tetap membutuhkan proses yang memakan waktu sebelum dijual. Sebut saja nasi lengkap dengan sambalnya, aneka gorengan seperti tempe, tahu, bakwan, pisang, dan lain-lainnya, berbagai cemilan seperti kacang, krupuk, marning jagung, serta tak ketinggalan adanya sate hati ayam dan sate usus serta baceman kepala ayam dan tahu. Khusus mengenai minuman, yang menjadi kekhasan tersendiri ialah minuman atau disebut wedang jahe. Selain tentunya minuman yang lain seperti es teh, es jeruk , es jahe susu, kopi panas maupun air putih. Hidangan yang disajikan tidak sama kompletnya antara angkringan satu dengan angkringan yang lainnya. Namun yang jelas angkringan mudah dikenali karena tetap dengan ciri khasnya yaitu gerobak kayu, minum-minuman dengan harga yang relatif murah, dan tiga buah ceret di sebelah tempat makanan, serta bungkusan nasi kecil dengan harga Rp 600 yang membuat kekhasan bagi pedagang angkringan.

Aktivitas Pedagang Angkringan Dan Pembeli (Mahasiswa)Dalam melakukan aktivitas kesehariannya, para pedagang tidak lupa melengkapi beberapa fasilitas untuk memberikan kesan santai dan nyaman bagi para pembelinya yakni berupa tratak atau tenda, dingklik (kursi panjang tanpa sandaran), tikar untuk lesehan dan lampu remang-remang. Kondisi demikian inilah yang memberikan kekhas-an bahwa angkringan berbeda dengan warung makan yang biasa dikenal orang. Yakni kekhas-an bahwa di angkringan pembeli dan pengunjung leluasa untuk nongkrong (duduk-duduk) sambil ngobrol membicarakan berbagai hal mulai dari masalah politik (negara), ekonomi, pendidikan, sosial budaya, sampai humor. Di angkringan ini pula sering menjadi salah satu sumber informasi terbaru dan juga menjadi tempat berkumpulnya berbagai komunitas orang mulai dari pelajar, tukang becak, pekerja kantoran, wartawan dan lain sebagainnya.
Tak ketinggalan pula mahasiswa sebagai kelas menengah keatas yang kerapkali justru menjadi pelanggan tetapnya. Mahasiswa dan angkringan menjadi hal yang sulit untuk dipisahkan. Tidak sulit untuk menemukan mahasiswa sedang makan di angkringan atau terlibat perbincangan yang seru di sana. Batas sosial menjadi tidak berlaku lagi di tempat ini. Semua berbaur menjadi satu, saling berinteraksi satu sama lain tanpa memandang kelas sosial oleh para konsumennya. Disini mereka salin menegur, berjabat tangan, saling berbicara dan saling bercanda antar pedagang dan pembeli. Di sini pula mereka beraktivitas membentuk dunianya sendiri, sebuah dunia manusia. Sebuah dunia yang menurut Berger adalah suatu dunia yang mesti dibentuk oleh aktivitas manusia itu sendiri. Manusia bisa menempatkan diri serta merealisasikan kehidupannya. Mereka pun harus selalu mencoba memahaminya dirinya sendiri dengan cara megekspresikan diri dalam beraktivitas (Berger:7:1991).

sumber : http://www.sarjanaku.com/2012/10/sejarah-angkringan-dan-pengertiannya.html

Angkringan Samba buka sabtu 18 Mei 2019, malam minggu pukul 20.00 wib – 24.00 wib.

9 dari 10 pintu rejeki adalah perdagangan

Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Ada sebuah hadits yang sering tersebar di kalangan orang awam sebagai motivasi untuk berbisnis atau menjadi pedagang. Namun, disayangkan hadits ini belum diletiti akan keshahihannya. Walaupun mungkin makna perkataan tersebut benar dan sah-sah saja. Akan tetapi, sangat tidak tepat jika kita menyandarkan suatu perkataan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau tidak pernah mengatakannya. Karena, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bersabda,

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari, no. 1291 dan Muslim, no. 3).

Hadits yang kami maksudkan di atas adalah hadits berikut ini,

تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِزْقِ فِي التِّجَارَةِ

Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan.

Sekarang kita akan meneliti shahih ataukah tidak hadits tersebut.

Perkataan Para Ulama Pakar Hadits

Dalam Al-Istidzkar (8/196), Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr mengisyaratkan bahwa hadits ini dha’if (lemah, ed.).

Dalam Al-Mughni ‘an Hamlil Asfar, Al-Hafizh Al-‘Iraqi pada hadits no. 1576 membawakan hadits,

عليكم بالتجارة فإن فيها تسعة أعشار الرزقة

Hendaklah kalian berdagang karena berdagang merupakan sembilan dari sepuluh pintu rezeki.

Diriwayatkan oleh Ibrahim Al-Harbi dalam Gharib Al-Hadits dari hadits Nu’aim bin ‘Abdirrahman,

تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِزْقِ فِي التِّجَارَةِ

Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan.”.Para perawinya tsiqah (kredibel). Nu’aim di sini dikatakan oleh Ibnu Mandah bahwa dia hidup di zaman sahabat, namun itu tidaklah benar. Abu Hatim Ar-Razi dan Ibnu Hibban mengatakan bahwa hadits ini memilikitaabi’ (penguat), sehingga haditsnya dapat dikatakan mursal [Hadits mursal adalah hadits yang dikatakan oleh seorang tabi’in langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebut sahabat. Hadits mursal adalah di antara hadits dha’if yang sifat sanadnya terputus (munqothi’)].

Dalam Dha’if Al-Jaami’ no. 2434, terdapat hadits di atas. Takrij dari Suyuthi: Dari Nu’aim bin ‘Abdirrahman Al-Azdi dan Yahya bin Jabir Ath-Tha’i, diriwayatkan secara mursal. Syaikh Al-Albani berkomentar hadits tersebut dha’if.

Hadits tersebut dikeluarkan pula oleh Ibnu Abid Dunya dalam Ishlah Al-Maal (hal. 73), dari Nu’aim bin ‘Abdirrahman.[1]

Conclusion: Hadits tersebut adalah dha’if sehingga tidak bisa disandarkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun maknanya mungkin saja benar. Wallahu a’lam bish shawab.

Penjelasan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al-Jibrin

Beliau ditanya, “Apakah hadits ini shahih, yaitu ‘perdagangan adalah sembilan dari sepuluh pintu rezeki’ sebagaimana yang selama ini sering kami dengar?”

Syaikh rahimahullah menjawab, “Aku tidak mendapati hadits tersebut dalam kitab-kitab hadits seperti Jaami’ Al-Ushul, Majma’ Az-Zawaid, At-Targhib wa At-Tarhib dan semacamnya. Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdirrahman Al-Washabi menyebutkan dalam kitabnya Al-Barakah fis Sa’yil Harakah halaman 193, beliau menegaskan bahwa hadits tersebut marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Beliau juga menyebutkan beberapa hadits dha’if, namun beliau tidak melakukan takhrij terhadapnya. Sebenarnya hadits tersebut tidak diriwayatkan dalam kitab shahih, kitab sunan, maupun musnad yang masyhur. Yang nampak jelas, hadits tersebut adalah hadits dha’if. Mungkin saja hadits tersebut mauquf (sampai pada sahabat), maqthu’ (hanya sampai pada tabi’in) atau hanya perkataan para ahli hikmah. Perkataan tersebut boleh jadi adalah perkataan sebagian orang mengenai keuntungan dari seseorang yang mencari nafkah lewat perdagangan.

Sebenarnya, telah terdapat beberapa hadits dalam masalah berdagang yang menyebutkan keutamaanya dan juga menyebutkan bagaimana adab-adabnya sebagaimana disebutkan dalam kitab At-Targhib wa At-Tarhib, yang disusun oleh Al-Mundziri, juga dalam kitab lainnya. Di antara hadits yang memotivasi untuk berdagang adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang,” (Muttafaqun ‘alaih)[2]

Juga pada hadits,

أَطْيَبُ الْكَسْبِ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang pria dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad, Al-Bazzar, Ath-Thabrani dan selainnya, dari Ibnu ‘Umar, Rafi’ bin Khudaij, Abu Burdah bin Niyar dan selainnya). Wallahu a’lam.[3]

Untuk motivasi dalam berbisnis atau berdagang lainnya, silakan simak artikel rumaysho.com: http://rumaysho.com/hukum-islam/muamalah/3055-meraih-berkah-menjadi-pebisnis-muda.html.

Semoga sajian ini bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Prepared at night after dinner, in Riyadh-KSA, 1 Muharram 1432 (06/12/2010)
By Muhammad Abduh Tuasikal (Penasihat Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia)
Artikel www.pengusahaMuslim.com

Catatan kaki:
[1] Pelajaran di atas kami cuplik dari http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=27340
[2] HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532
[3] Dicuplik dari http://ibn-jebreen.com/book.php?cat=6&book=50&toc=2304&page=2139&subid=24476

Read more https://pengusahamuslim.com/2043-9-dari-10-pintu-rezeki-di-perdagangan.html

Pada bulan romadhon 1440 H/ 2019 M. Angkringan Samba mulai buka selepas sholat taraweh yaitu pukul 20.15 wib – 24.00 wib.

Angkringan Samba

Angkringan samba merupakan sebuah warung angkringan yang terletak di Jl Waringin no 79, sambilegi baru RT01/RW53, Maguwoharjo, Depok, Sleman Yogyakarta. Kata Samba berasal dari kata Sambilegi Baru, sambilegi baru merupakan penyebutan suatu wilayah yang terletak di padukuhan Sambilegi Lor, Maguwoharjo. Angkringan Samba mulai beroperasi pertama kali pada tanggal 29 April 2019. Dengan perlengkapan sederhana si pemilik “nekat” berjualan menu makan dan minum angkringan. Konsep angkringan ini merupakan warung makan kerakyatan yang Hi-tech. fasilitas yang ada di angkringan ini antara lain free wifi, akses wifi corner telkom, parkir luas dan tempat nyaman. Menu yang disuguhkan pada warung angkring ini antara lain : nasi kucing ekstra pedas, sate usus, sate ati, ceker, kepala, aneka gorengan dll. Sedangkan aneka minuman yang disediakan di angkringan samba antara lain : jahe panas, susu jahe/es susu jahe, kopi hitam, teh panas/es teh, jeruk panas/es jeruk dll. Misi daripada angkringan kerakyatan ini adalah membantu mengangkat perekoniaan masyarakat dan menyediakan berbagai macam informasi yang dibutuhkan warga. SELAMAT MENIKMATI HIDANGAN YANG KAMI SUGUHKAN. MATUR NUWUN….